Mengaji akhlak Rasulullah Bersama Nyai Hj. Lathifa Wafi pada Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW

Paiton Probolinggo — Suasana SMP Nurul Jadid Paiton, Probolinggo, tampak beda dari biasanya, Kamis (10/9). Sejak pagi, ratusan siswi berbusana muslimah rapi sudah memadati area acara. Suara lantunan ayat suci Al-Qur'an dan gema shalawat sahut-menyahut, menandai dimulainya puncak Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW khusus siswi putri, guru, dan karyawan perempuan.

Hari sebelumnya, Rabu (9/9), agenda serupa lebih dulu digelar untuk kelompok siswa putra.

Kemeriahan langsung terasa saat tiga siswi naik ke atas panggung utama. Menariknya, mereka memandu jalannya acara secara bergantian menggunakan tiga bahasa sekaligus: Indonesia, Arab, dan Inggris. Aksentuasi dan ketenangan ketiganya saat mengolah bahasa asing di hadapan publik langsung memancing apresiasi dari para hadirin.

Suasana kian syahdu ketika Tim Hadrah Putri SMP Nurul Jadid unjuk kebolehan. Tabuhan rebana yang rancak berpadu harmonis dengan vokal bening para personilnya, mengajak seluruh hadirin larut dalam lantunan shalawat.

Sambutan Kepala SMP Nurul Jadid yang diwakili Bapak Nor Taufik Hidayatullah dalam sambutannya menegaskan, agenda tahunan ini tak boleh berhenti di batas seremoni semata.

"Peringatan ini jangan sekadar seremonial. Niatkan untuk mengaji hikmah keteladanan Baginda Nabi, kemudian kita berusaha mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari," ujar Bapak Taufik mewanti-wanti.

Memasuki sesi inti, hadir pengasuh sekaligus penceramah Ibu Nyai Hj. Latifah Wafi. Dengan gaya penyampaian yang luwes dan menyentuh khas gaya komunikasi santri, beliau membedah arti penting meneladani sosok Rasulullah SAW dalam tindakan nyata.

"Rasulullah itu uswah hasanah. Kalau disakiti beliau memaafkan, kalau diajak bertengkar beliau memilih diam. Keteladanan ini yang harus dipakai anak-anak dalam pergaulan sehari-hari," tutur Nyai Latifah.

Tak hanya mengulas kisah sejarah, Nyai Latifah merinci kepribadian Nabi hingga ke kebiasaan (adab) paling mendasar. Mulai dari tata cara tidur yang diawali wudu dan bersiwak, adab masuk-keluar kamar mandi, hingga etika menjaga pandangan mata demi menjaga kejernihan hati dalam menuntut ilmu.

Bahkan, etika makan pun tak luput dari ulasannya. Siswi diajak mempraktikkan sunnah menyantap makanan dengan tangan kanan, tidak meniup hidangan panas, mengambil suapan secukupnya, serta mengunyah makanan hingga lumat.

Mendekati penghujung tausiyah, suasana berubah khidmat saat menceritakan kilas balik kerinduan Rasulullah SAW kepada umatnya menjelang akhir hayat. Suasana haru menyelimuti tenpat acara sebelum akhirnya seluruh rangkaian acara dipungkasi dengan doa Bersama yang dipimpin oleh beliau Nyai Hj. Lathifa Wafi.

0 Komentar