Siswa SMP Nurul Jadid berhasil meraih Top 10 dalam program Pemuda Mendunia yang diselenggarakan di Singapura pada tanggal 11-13 Januari 2019, perjalanannya penuh dengan Lika-liku. Dia hampir batal berangkat karena terkendala masalah pembuatan passport, beruntung dengan penuh usaha dan keraja keras dia berhasil berangkat ke Singapura. Pada kesempatan kali ini Tim Redaksi berhasil menemui dan mewawancarainya, semoga kisahnya bisa menjadi inspirasi bagi kita semua.
“Kegagalan adalah
awal dari kesuksesan” Kata bijak itulah yang selalu membuat Wahyu terus
berjuang untuk mencapai kesuksesan. Sebelumnya, Wahyu seringkali gagal dalam
beberapa lomba. Namun hal tersebut tak pernah menghalanginya untuk menggali
potensi dan meraih prestasi. Pada akhirnya usaha yang ia lakukan membuahkan
hasil, dimulai dari diraihnya gelar Nurul Jadid Student Top Leader (NJSTL) 2019
yang diadakan oleh Biro Pendidikan Pondok Pesantren Nurul Jadid, dan
dilanjutkan dengan diraihnya Duta Siswa Berprestasi Nasional 2019 yang diadakan
oleh The Platinum Skills dan hingga yang terbaru ini ia berhasil menduduki
peringkat 5 dari Top 10 dalam Program Pemuda Mendunia yang diselenggarakan oleh
Studec International.
Sebelumnya ia
hampir saja gagal berangkat ke Singapura
karena terkendala oleh passport dikarenakan faktor usia yang masih di bawah 17
tahun yang mengharuskan didampingi oleh orang tuanya, sedangkan orang tua Wahyu
berada di Kalimantan Selatan, tapi berkat kerja keras pesantren dan sekolah ,
Pada hari Jum’at 10 Januari 2019 passport Wahyu bisa dikeluarkan oleh Kantor
Imigrasi Kelas II Jember dan saat itu juga ia langsung menuju Bandara
Internasional Juanda untuk mengikuti penerbangan menuju Bandara Changi
Singapura
Program Pemuda
Mendunia adalah sebuah program pengabdian bagi pemuda untuk mengabdi ke luar
negeri dengan cara memberikan inspirasi kepada Diaspora dan mengenalkan budaya
bangsa kepada negara lainnya. Program ini diadakan oleh Studec International,
sebuah Non-Govermental Organization yang bergerak pada Program Pendidikan.
Program Pemuda Mendunia ini sebelumnya telah dilaksanakan di Malaysia pada
tahun 2017 yang diikuti oleh 15 delegasi. Tahun ini Program Pemuda Mendunia
dilaksanakan di Singapura dengan 10 delegasi diantaranya adalah Siswa SMP Nurul
Jadid sebagai delegasi termuda.
Disana Wahyu diajak untuk mempelajari kebijakan Negeri Singa
tersebut. Pada hari pertama Wahyu dan rombongan dikenalkan dengan sejarah
berdirinya dan perkembangan Negeri Singapura dan juga diberikan pengenalan
lebih dalam tentang Pemuda Mendunia dan juga mengenal kebijakan Pemerintah
Singapura kepada BMI (Buruh Migran
Indonesia). Hari kedua Wahyu dan 9 delegasi lainnya menuju taman Toa Payoh
untuk bertemu langsung dan melakukan sharing session bersama para BMI, dengan
memakai pakaian adat Jawa Timur, Wahyu membagikan pengalamannya dan
mempresentasikan Produk Olahan Mangrove yang ia bawa lalu menampilkan puisi
“Jaranan Kodok dan Kalong” karya Sosiawan Leak. Berkat penampilannya ia
berhasil meraih “Best Performance”. Hari ketiga seluruh delegasi mengunjungi
National University of Singapore (NUS) sebuah Universitas terbaik nomor 1 di
Asia dan 11 di dunia versi QWR. Disana mereka disambut langsung oleh PINUS
(Perhimpunan Indonesia NUS) sebuah organisasi Pelajar Indonesia yang ada di NUS
disana mereka dikenalkan dengan sejarah dan sistem NUS, mereka juga mendapat Leadership
Training. Disana juga mereka berinteraksi langsung dengan mahasiswa NUS dan
melakukan Campus Tour. (Redaksi IQRO’)


0 Komentar