Ada yang menarik dari arahan bapak Arif (pengawas) pada hari Sabtu (17/12/2022) kemarin , "student wellbeing", yang menjadi satu dari lima prinsip membelajarkan siswa/wajib belajar/peserta didik; kita sebut saja murid.
Kita mengenal wellbeing secara
sederhana sebagai kesejahteraan, tentu saja itu bermakna universal, dan makna
yang riskan dalam dunia pendidikan, karena akan menarik simpulan otak kita pada
"kesejahteraan ekonomi".
Pengertiannya sebagai berikut:
Kesejahteraan siswa (student well-being) didefinisikan sebagai keadaan yang
berkesinambungan dari kondisi mood positif dan sikap, ketahanan (resiliensi)
dan kepuasan diri, serta hubungan dan pengalaman di sekolah (Noble, McGrath,
Roffey & Rowling, 2008).
Mari kita sebut saja: kenyamanan
murid.
Nyaman, belajar di sekolah terasa
menyenangkan, aman, menggairahkan, berkesan, dan tentu saja edukatif.
Walaupun prinsip ini tidak
berdiri sendiri, namun mengkaji dan mengusahakan terjadinya satu poin ini saja,
rupa-rupanya kita harus duduk berlama-lama mengingat kondisi sekolah kita yang
saya rasa, ya... murid-murid kita selalu pengen pulang saja.
Saya coba mencari dan mengurai,
minimal indikator sehingga student wellbeing tersebut dapat terwujud, begini:
1. Mengembangkan dan merawat
lingkungan sekolah yang nyaman dan aman bagi murid dan guru
2. Mengembangkan komunikasi dan
interaksi warga sekolah yang saling percaya dan saling peduli
3. Memfasilitasi masukan dan
aspirasi murid dalam mempengaruhi kebijakan dan praktik belajar
4. Memastikan guru melibatkan
murid dalam membangun kelas yang kondusif untuk belajar
Tentusaja, empat poin tersebut
sudah kita usahan dan nampak ada di sekolah kita, namun kita sangat bisa
mengusahakannya lebih baik lagi, progresif dan konsisten. Lantas siapa yang
akan mengusahakannya? [kamu naenyaaa... Kamu bertanya-tanyaaaaa]
Menurut bapak Fathorrozi (pejabat
diknas dan biro pendidikan PPNJ), dalam kunjungannya kemarin (19/12), perlu
sosok guru yang 'punya komitmen dan punya kompetensi' untuk melaksanakan
program-program sekolah.
Saya terkesan dengan frasa 'punya
komitmen dan punya kompetensi' tersebut, student wellbeing dapat dengan mudah
terwujud jika guru-guru kita masuk dalam kategori sosok tersebut.
Masih menurut bapak Fathor, ada 3
jenis lain dari guru yang ada di sekitar kita, yaitu guru yang:
Punya kompetensi, tapi tidak
punya komitmen (keminter tapi ngga berbuat, provokatif)
Punya komitmen, tapi tidak punya
kompetensi (semangat tinggi, bisa di-upgrade-)
Tidak punya komitmen dan
kompetensi (perlu di-ruqyah)
Maka dari itu mari kita berpikir
dua hal ini seminggu ini, student well being dan komitmen+kompetensi.
Karena kitalah yang akan
mengusahakan terwujudnya student wellbeing tersebut.
Semoga hari-hari kita
menggairahkan, dan sejahtera.
Salam ...
(shm/20/12/2022)


0 Komentar