Upacara Bendera SMP Nurul Jadid: Bapak Didianto, M.Pd Ajak Siswa Biasakan Tiga Kata Kunci dalam Kehidupan Sehari-hari


Paiton, Probolinggo – SMP Nurul Jadid Paiton Probolinggo kembali melaksanakan upacara bendera rutin pada Senin pagi (2/11/2026). Kegiatan yang berlangsung di halaman sekolah ini diikuti oleh seluruh siswa, guru dan karyawan dengan tertib  dan penuh khidmat.

Pelaksanaan upacara bendera kali ini dipercayakan kepada siswa kelas 8D sebagai petugas upacara. Petugas upacara dilakukan secara bergiliran oleh masing-masing kelas. Selain menjadi bagian dari pelaksanaan kegiatan rutin sekolah, sistem bergiliran ini juga bertujuan melatih tanggung jawab, kedisiplinan, keberanian, serta kerja sama antarsiswa.

Bertindak sebagai pembina upacara, Bapak Didianto, M.Pd. Dalam amanahnya, beliau menyampaikan tiga kata kunci sederhana yang dapat menjadi pelecut semangat bagi para siswa untuk terus melatih diri menjadi pribadi yang lebih baik. Ketiga kata tersebut adalah tolong, maaf, dan terima kasih.

Beliau menjelaskan bahwa kata tolong hendaknya digunakan ketika seseorang membutuhkan bantuan orang lain. Membiasakan mengucapkan kata tolong merupakan bentuk kesantunan dan penghargaan terhadap orang yang dimintai bantuan.

Selanjutnya, kata maaf perlu diucapkan ketika seseorang melakukan kesalahan, baik yang disengaja maupun tidak disengaja. Keberanian meminta maaf mencerminkan sikap rendah hati, kesadaran diri, serta kemauan untuk memperbaiki kesalahan.

Adapun kata terima kasih hendaknya selalu disampaikan setiap kali seseorang menerima kebaikan atau bantuan dari orang lain. Ucapan terima kasih merupakan bentuk penghargaan dan rasa syukur atas kebaikan yang telah diterima.

Melalui amanah tersebut, para siswa diajak untuk memahami bahwa membentuk karakter yang baik tidak selalu harus dimulai dari hal-hal besar. Justru, kebiasaan sederhana dalam bertutur kata dan berinteraksi dengan sesama dapat menjadi langkah awal dalam membangun kepribadian yang santun, rendah hati, dan penuh rasa hormat.

Pesan tiga kata kunci tersebut diharapkan tidak hanya menjadi pengingat selama pelaksanaan upacara, tetapi juga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan sekolah, pesantren, keluarga, maupun masyarakat.

0 Komentar